Landasan Penelaahan Ontologi dan Epistimologi
Pengertian Ontologi
Sumber : You Tube Author : Martin Suryajaya
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berartisesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ontology artinya cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup.[1] Jadi ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.[2]
Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.Objek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indera. Dengan demikian, objek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontology adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the theory of being qua being”,artinya ontology adalah teori tentang wujud.
Noeng Muhadjir dalambukunya “FilsafatIlmu” mengatakan, ontology membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupa yang mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, makadapat dikatakan bahwa objek formal dari ontology adalah hakikat seluruh realitas.[3]
Dari sini dapat disimpulkan bahwa ontology ilmu merupakan pembahasan tentang sesuatu yang ada atau wujud, riil, serta universal dengan mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau objek yang akan ditelaah dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindra) sehingga membuahkan sebuah pengetahuan. Serta menjadi asas dalam menetapkan batas atau ruang lingkup yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek penelaahan tersebut.
Berbagai Pandangan Pemahaman Ontologi Term ontology pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu:[4]
Metafisika umum
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontology adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
Metafisika khusus
a) Kosmologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta
b) Psikologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia
c) Teologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.
Sedangkan arti metafisika itu sendiri menurut Reza A.A Wattimena, dalam bukunya yang berjudul “Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar” adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang paling abstrak.[5]
Ada beberapa pandangan pemahaman tentang ontologi, diantaranya yaitu:
1) Monoisme
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontology adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
a) Kosmologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta
b) Psikologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia
c) Teologi
Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Thomas Davidson menyebutdengan Block Universe. Kemudian paham ini terbagi kedalam dua aliran:
a. Materialisme (naturalisme)
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Seperti halnya manusia, karena manusia pada instansi terakhir adalah benda dunia (materi) seperti benda (materi) lainnya.[6]
Paham ini menganggap bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, Jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda.[8]
3) Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.[9]
4) Nihilisme
Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Disebabkan penginderaan tidak dapat dipercaya karena sumber ilusi. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat diketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.[10]
5) Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.[11]
a. Berbagai Pandangan dalam Epistemologi
Beberapa ilmuwan memiliki kategorisasi tersendiri terhadap epistemology. Lofgren (2013) membagi epistemology menjadi dua cabang utama, yakni empiricism and rationalism.
b. Empiricism
Epistemologi calempiricism menganggap bahwa pengetahuan yang benar (the true knowledge) ditemukan dalam input dari indera kita (input from our sense), yakni dunia empiris di sekitar kita. Epistemological empiricism juga akan merujuk pada pengalaman (experience) dan observasi ketika akan menjustifikasi dan mengujibelief dan claim tersebut. Epistemological empiricism tidak menganggap ide dan tradesi sebagai sumber utama bagi pengetahuan (Lofgren, 2013).Dalam kaitannya dengan cara mendapatkan pengetahuan,epistemological empiricism percaya bahwa peneliti harus mendapatkan pengetahuan dengancara yang obyektif sehingga peneliti tidak mempengaruhi data yang dikumpulkan. Kelompok ini percaya bahwa untuk menemukan kebenaran (truth), peneliti harus mengambil jarak sejauh mungkin dari obyek yang diteliti sehingga bisa mendapatkan pengukuran yang obyektif. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan etic (Nurse Killam).
c. Rationalism
Epistemological rationalism tidak memandang penting arti experience dan observations, tetapi mementingkan penggunaan reason sebagai basis utama menjustifikasi beliefs dan claims. Dengan kata lain, rasio dan logika manusia merupakan sumbe rpenting bagi penemuan pengetahuan baru. Dunia material di sekitar kita tidak dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Dengan demikian, menurut epistemological rationalism, hasil penelitian akan diverifikasi menggunakan reasoning. Dalam hal penelitian, pendekatan epistemology ini mirip dengan pendekatan emic. Pendekatan emic menyatakan bahwa peneliti percaya pada pendekatan subyektif tentang reality. Truth bisa dicari dengan cara berinteraksi dengan masyarakat.
d. Dasar Epistemologi Ilmu
Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Karna ilmu merupakan sebahagian dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga disebut pengetahuan keilmuan. Untuk tujuan inilah, agar tidak terjadi kekacauan antara pengertian "ilmu" (science) dan "pengetahuan" (Knowledge), maka kita mempergunakan istilah "ilmu" untuk "ilmu pengetahuan".Ditinjau dari pengetahuan ini, ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan dari pada sekedar produk yang slap dikonsumsikan. Kata sifat "keilmuan" Iebih mencerminkan hakekat ilmu dari pada istilah ilmu sebagai kata benda. Kegiatan ilmu juga dinamis dan tidak stasis. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apa pun, selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah syah untuk disebut keilmuan. Orang bisa membahas suatu kejadian sehari-hari secara keilmuan, asalkan. dalam proses pengkajian masalah tersebut, dia memenuhi persyaratan yang telah digariskan. Sebaliknva tidak semua yang diasosiasikan dengan eksistensi ilmu adalah keilmuan. Seorang sarjana yang mempunyai profesi bidang ilmu belum tentu mendekati masalah ilmunya secara keilmuan.Hakekat ilmu tidak berhubungan dengan titel, profesi atau kedudukan; hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persvaratan keilmuan. Semoga hal ini bisa menggugah kesadaran kita untuk tidak menempatkan ilmu pada suatu struktur feodalisme yang terselubung. Ilmu besifa tterbuka, demokratis dan menjunjung kebenaran di atas segala-galanya.[15]
Hubungan Antara Ontologi dan Epistimologi
- Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?
- Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
- Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan dayatangkap manusia (sepertiberpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
- Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
- Analogi dalam ilmu bahasa adalah persaaman antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk – bentuk yang lain.
- Silogisme adalah penarikan kesimpilan konklusi secara deduktif tidak langsung, yang konklusinya ditarik dari premis yang di sediakan sekaligus.
- Premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan, kebenaran, dan kepastian.
- Premis Minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil – dalilnya.
Dari pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu:
- Ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.
- Epistemologi juga bisa didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari bagaimana kita memahami pengetahuan (knowledge), bagaimana kita memahami proses pemikiran kita sendiri, dan bagaimana kita berpikir tentang apa yang orang lain ketahui.
- Hubungan landasan Ontologi, dan landasan Epistemologi dalam ilmu filsafat dari kedua pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa antologi adalah ilmu yang mempertanyakan bagaimanaman usia menggunkanai lmu, sedangkan epistimologi adalah bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan filsafat.
[1] http://kbbi.web.id/[2] Suparlan Suhartono, Filsafat
Pendidikan, (Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar-Ruzz Media, 2007)
[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), cet. 10, hlm. 133[4] Ibid.,
hlm. 134
[5] Reza A.A Wattimena, Filsafat dan
Sains; Sebuah Pengantar, (Jakarta: Grasindo), hlm. 10[6] Amsal
Bakhtiar.,Op.Cit hlm. 135
[7] Burhanuddin Salam, Pengantar
Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet. 8, hlm. 138[8] Ibid., hlm. 142[9] Ibid., hlm. 143-144[10] Ibid., hlm. 145-146 [11] Ibid.,
hlm. 146[12] http://kbbi.web.id/(diakses pada tanggal 24 September 2020)[13] J. Sudarminta, Epistemologi
Dasar; Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), cet. 9,
hlm. 18[14] Mujamil Qomar, Epistemologi
Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik (Jakarta: Erlangga,
2007), hlm. 2[15] Jujun S.Suriasumantri,
Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 9.
Disusun Oleh:
- Fathoni Wijaya
- Fatimah Azzahra
- Abdullah Muhammad Islamuddin
- Satria Amir Makmun Gunawan
- Tamara Diina Al Hakim
- Ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.
- Epistemologi juga bisa didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari bagaimana kita memahami pengetahuan (knowledge), bagaimana kita memahami proses pemikiran kita sendiri, dan bagaimana kita berpikir tentang apa yang orang lain ketahui.
- Hubungan landasan Ontologi, dan landasan Epistemologi dalam ilmu filsafat dari kedua pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa antologi adalah ilmu yang mempertanyakan bagaimanaman usia menggunkanai lmu, sedangkan epistimologi adalah bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan filsafat.
[5] Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar, (Jakarta: Grasindo), hlm. 10
[7] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet. 8, hlm. 138
- Fathoni Wijaya
- Fatimah Azzahra
- Abdullah Muhammad Islamuddin
- Satria Amir Makmun Gunawan
- Tamara Diina Al Hakim







0 komentar:
Posting Komentar