Sabtu, 03 Oktober 2020

Landasan Penelaahan Ontologi dan Epistimologi

 

Landasan Penelaahan Ontologi dan Epistimologi




Pengertian Ontologi 



Sumber : You Tube  Author : Martin Suryajaya

    Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berartisesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ontology artinya cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup.[1] Jadi ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.[2] 

    Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.Objek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indera. Dengan demikian, objek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontology adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the theory of being qua being”,artinya ontology adalah teori tentang wujud.

    Noeng Muhadjir dalambukunya “FilsafatIlmu” mengatakan, ontology membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupa yang mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, makadapat dikatakan bahwa objek formal dari ontology adalah hakikat seluruh realitas.[3]

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa ontology ilmu merupakan pembahasan tentang sesuatu yang ada atau wujud, riil, serta universal dengan mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau objek yang akan ditelaah dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindra) sehingga membuahkan sebuah pengetahuan. Serta menjadi asas dalam menetapkan batas atau ruang lingkup yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek penelaahan tersebut.

Berbagai Pandangan Pemahaman Ontologi
    Term ontology pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu:[4]

Metafisika umum

    Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontology adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. 

Metafisika khusus

a) Kosmologi

    Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta

b) Psikologi

    Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia

c) Teologi

    Cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan. 

    Sedangkan arti metafisika itu sendiri menurut Reza A.A Wattimena, dalam bukunya yang berjudul “Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar” adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang paling abstrak.[5]

Ada beberapa pandangan pemahaman tentang ontologi, diantaranya yaitu:

1) Monoisme

    Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak  mungkin dua. Thomas Davidson menyebutdengan Block Universe. Kemudian paham ini terbagi kedalam dua aliran:

            a. Materialisme (naturalisme) 

    Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Seperti halnya manusia, karena manusia pada instansi terakhir adalah benda dunia (materi) seperti benda (materi) lainnya.[6]


            b. Idealisme

Aliran ini menyatakan bahwa hakikat benda adalah nurani, spirit atau sebangsanya.[7]

2) Dualisme

    Paham ini menganggap bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, Jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda.[8]

3) Pluralisme

    Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.[9]

4) Nihilisme

    Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Disebabkan penginderaan tidak dapat dipercaya karena sumber ilusi. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat diketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.[10]

5) Agnostisisme

    Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.[11]


Pengertian Epistemologi 



Sumber : You Tube  Author : Martin Suryajaya

    Sebagaimana ontologi, epistemologi juga merupakan salah satudari sub system filsafat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, epistemology dimaknai dengan cabang ilmu filsafat tertentu, dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan.[12]

    Istilah epistemology sendiri berasal dari bahasa Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos artinya perkataan, pikiran, ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya mendudukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk “menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya.” Selain kata “episteme”, untuk kata “pengetahuan” dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis”, maka istilah “epistemologi” dalam sejarah pernah juga disebut gnoseologi. Sebagian kajian filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan, epistemology kadang juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge; Erkentnistheorie).[13]

    Epistemologi juga bisa didefinisikan sebagai cabangfilsafat yang mempelajari bagaimana kita memahami pengetahuan (knowledge), bagaimanakitamemahami proses pemikirankitasendiri, dan bagaimana kita berpikir tentang apa yang orang lain ketahui. Dengan kata lain, epistemology berupa ya menjawab pertanyaan: "Bagaimana saya bisa tahu tentang realitas (How can i know reality)" (Pretorious, 2018).
    Menurut P. Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemology adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W. Hamlyn mendefinisikan epistemology sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan lingkup pengandaian-pengandaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.[14] Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Tetapi ada perbedaan pada persoalan kodrat pengetahuan dan hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan berkaitan dengan sifat asli  dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya.


a. Berbagai Pandangan dalam Epistemologi

    Beberapa ilmuwan memiliki kategorisasi tersendiri terhadap epistemology. Lofgren (2013) membagi epistemology menjadi dua cabang utama, yakni empiricism and rationalism.

b. Empiricism

    Epistemologi calempiricism menganggap bahwa pengetahuan yang benar (the true knowledge) ditemukan dalam input dari indera kita (input from our sense), yakni dunia empiris di sekitar kita. Epistemological empiricism juga akan merujuk pada pengalaman (experience) dan observasi ketika akan menjustifikasi dan mengujibelief dan claim tersebut. Epistemological empiricism tidak menganggap ide dan tradesi sebagai sumber utama bagi pengetahuan (Lofgren, 2013).

    Dalam kaitannya dengan cara mendapatkan pengetahuan,epistemological empiricism percaya bahwa peneliti harus mendapatkan pengetahuan dengancara yang obyektif sehingga peneliti tidak mempengaruhi data yang dikumpulkan. Kelompok ini percaya bahwa untuk menemukan kebenaran (truth), peneliti harus mengambil jarak sejauh mungkin dari obyek yang diteliti sehingga bisa mendapatkan pengukuran yang obyektif. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan etic (Nurse Killam).

 c. Rationalism

    Epistemological rationalism tidak memandang penting arti experience dan observations, tetapi mementingkan penggunaan reason sebagai basis utama menjustifikasi beliefs dan claims. Dengan kata lain, rasio dan logika manusia merupakan sumbe rpenting bagi penemuan pengetahuan baru. Dunia material di sekitar kita tidak dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Dengan demikian, menurut epistemological rationalism, hasil penelitian akan diverifikasi menggunakan reasoning. Dalam hal penelitian, pendekatan epistemology ini mirip dengan pendekatan emic. Pendekatan emic menyatakan bahwa peneliti percaya pada pendekatan subyektif tentang reality. Truth bisa dicari dengan cara berinteraksi dengan masyarakat.

 

 d. Dasar Epistemologi Ilmu

    Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Karna ilmu merupakan sebahagian dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga disebut pengetahuan keilmuan. Untuk tujuan inilah, agar tidak terjadi kekacauan antara pengertian "ilmu" (science) dan "pengetahuan" (Knowledge), maka kita mempergunakan istilah "ilmu" untuk "ilmu pengetahuan".

    Ditinjau dari pengetahuan ini, ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan dari pada sekedar produk yang slap dikonsumsikan. Kata sifat "keilmuan" Iebih mencerminkan hakekat ilmu dari pada istilah ilmu sebagai kata benda. Kegiatan ilmu juga dinamis dan tidak stasis. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apa pun, selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah syah untuk disebut keilmuan. Orang bisa membahas suatu kejadian sehari-hari secara keilmuan, asalkan. dalam proses pengkajian masalah tersebut, dia memenuhi persyaratan yang telah digariskan. Sebaliknva tidak semua yang diasosiasikan dengan eksistensi ilmu adalah keilmuan. Seorang sarjana yang mempunyai profesi bidang ilmu belum tentu mendekati masalah ilmunya secara keilmuan. 

    Hakekat ilmu tidak berhubungan dengan titel, profesi atau kedudukan; hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persvaratan keilmuan. Semoga hal ini bisa menggugah kesadaran kita untuk tidak menempatkan ilmu pada suatu struktur feodalisme yang terselubung. Ilmu besifa tterbuka, demokratis dan menjunjung kebenaran di atas segala-galanya.[15]


 Hubungan Antara Ontologi dan Epistimologi 

    Dari dua landasan diatas yaitu landasan Ontologi dan landasan Epistimologi kedua memiliki pengertian yang sangat luas dan bahkan para ilmuan banyak yang berspekulasi, Dapat kita ketahui Ontologi adalah sebuah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada dengan berdasarkan pada logika semata. baik secara jasmani maupun secara rohani. Disisi lain, ontology filsafat adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau yang paling pokok.
 
    Objek kajian Ontologi disebut“ Ada” maksudnya berupa benda  yang terdiri dari alam , manusia individu, umum, terbatas  dan tidak terbatas (jiwa). Di dalam ontologi juga terdapat  aliran yaitu  aliran monoisme yaitu segala sesuatu yang ada berasal dari satu sumber (1 hakekat).

    Dalam aspek Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan dalam sebuah  ilmu. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut dengan Metafisika. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang menyelidiki gerakan atau perubahan yang berkaitan dengan yang ada (being). Dalam hal ini, aspek Ontologi menguak beberapa hal, diantaranya: 

  1. Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? 
  2. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
  3. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan dayatangkap manusia (sepertiberpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? 
  4. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? 
    Sedangkan Epistimologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Jadi, objek material epistimologi adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.

    Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Dalam aspek epistemology ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme, premis mayor, dan premis minor.

  1. Analogi dalam ilmu bahasa adalah persaaman antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk – bentuk yang lain.
  2. Silogisme adalah penarikan kesimpilan konklusi secara deduktif tidak langsung, yang konklusinya ditarik dari premis yang di sediakan sekaligus.
  3. Premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan, kebenaran, dan kepastian.
  4. Premis Minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil – dalilnya.
    
   Jadi hubungan landasan Ontologi, dan landasan Epistemologi dalam ilmu filsafat dari kedua pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa antologi adalah ilmu yang mempertanyakan bagaimanaman usia menggunkanai lmu, sedangkan epistimologi adalah bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan filsafat,sebenarnya ada satu lagi landasan pokok dalam ilmu filsafat yaitu aksiologi yang mana ilmu ini membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri, namun kita tidak membahas dimateri kali ini dan itu akan dibahas dimateri selanjutnya. 
    
    Mengacu pada kedua landasan tadi, dapat kita ambil kesimpulan bahwa hubungan antara kedua landasan  (epistimologi) yaitu bagaimana kita memperoleh ilmu pengetahuan, kemudian (antologi) bagaimana kita mengimplementasikan sebuah ilmu tersebut dengan baik agar nantinya mendapatkan hasil yang maksimal dan bermanfaat buat kita sendiri maupun untuk masyarakat banyak. 

Kesimpulan 


Dari pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu: 

  1. Ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.
  2. Epistemologi juga bisa didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari bagaimana kita memahami pengetahuan (knowledge), bagaimana kita memahami proses pemikiran kita sendiri, dan bagaimana kita berpikir tentang apa yang orang lain ketahui.
  3. Hubungan landasan Ontologi, dan landasan Epistemologi dalam ilmu filsafat dari kedua pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa antologi adalah ilmu yang mempertanyakan bagaimanaman usia menggunkanai lmu, sedangkan epistimologi adalah bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan filsafat.
[1] http://kbbi.web.id/
[2] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar-Ruzz Media, 2007)
[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), cet. 10, hlm. 133
[4] Ibid., hlm. 134
[5] Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar, (Jakarta: Grasindo), hlm. 10
[6] Amsal Bakhtiar.,Op.Cit hlm. 135
[7] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet. 8, hlm. 138
[8] Ibid., hlm. 142
[9] Ibid., hlm. 143-144
[10] Ibid., hlm. 145-146
[11] Ibid., hlm. 146
[12] http://kbbi.web.id/(diakses pada tanggal 24 September 2020)
[13] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar; Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), cet. 9, hlm. 18
[14] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 2
[15] Jujun S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 9.

                             
                            Disusun Oleh:


          1. Fathoni Wijaya
          2. Fatimah Azzahra
          3. Abdullah Muhammad Islamuddin
          4. Satria Amir Makmun Gunawan
          5. Tamara Diina Al Hakim

0 komentar:

Posting Komentar